Libur pun macet

Kemacetan lalu lintas di Jlan Gatot Subroto, Slipi, Jakarta, Sabtu (22/1). Kemacetan di kawasan tersebut antara lain disebabkan pertemuan arus kendaraan yang akan masuk pintu tol Slipi, jalur bus transjakarta, serta putaran balik dari arah Grogol.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

Pengusaha menjerit karena Jalan macet

Kemacetan Jakarta yang memuncak saat hujan deras membuat kalangan pengusaha angkutan menjerit. Organisasi Pengusaha Angkutan Jalan Angkutan Khusus Pelabuhan dan PT Pelindo mendesak Jasa Marga segera membuka Jalan Tol Lingkar Luar Cakung.Karena hambatan lalu lintas, saat ini dari 15.000 truk peti kemas setiap hari rata-rata hanya beroperasi 6.000 truk. Bila lalu lintas macet parah, pengusaha kehilangan waktu pengantaran barang atau kehilangan rit sampai separuh. Titik kemacetan paling merugikan untuk angkutan peti kemas adalah jalur dari Tanjung Priok ke kawasan gudang Cakung, Tangerang, Cikarang, dan Daan Mogot.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

Kemacetan di Ibu Kota Kian Parah

Kemacetan yang terjadi di ibu kota Jakarta kian parah. Jalan-jalan utama hingga jalan-jalan kecil pun kini penuh dengan kendaraan. Bus transjakarta, yang menjadi salah satu solusi kemacetan, justru kini menimbulkan kemacetan baru di berbagai ruas jalan yang dilalui.Titik terparah terjadi di gerbang tol Slipi dan gerbang tol Tanjung Duren. Di dekat gerbang tol Slipi terjadi pertemuan kendaraan dari empat ruas jalan, yaitu arah Cawang, Permata Hijau, Palmerah, dan kendaraan yang berputar balik dari Grogol. Polres Jakarta Pusat memetakan titik-titik rawan macet di semua kecamatan. Kemacetan ada di Jalan Tambak, Sabang, Agus Salim, Kramat Raya, Salemba Raya, Bungur Raya, Raya Caringin, Hayam Wuruk, Gunung Sahari, Samanhudi, Angkasa, dan Garuda. Kemacetan di Ibu Kota juga berimbas ke daerah sekitarnya, seperti Kota Tangerang yang memiliki 35 titik kemacetan.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat kebutuhan perjalanan di DKI 20,7 juta perjalanan per hari. Pertumbuhan kendaraan pribadi tinggi, yakni 6,6 juta unit (98,5 persen) dari total pertambahan kendaraan. Pertambahan angkutan umum 91.082 unit (1,5 persen). Kemacetan ini menyumbangkan biaya besar yang harus ditanggung warga, sekitar Rp 35 triliun per tahun. Biaya itu termasuk pemborosan bahan bakar minyak, perbaikan kendaraan, biaya kesehatan, penurunan produktivitas, polusi udara, serta transaksi yang tertunda. Untuk mengatasi kemacetan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus fokus membenahi transportasi yang ada. Hal itu lebih mudah ketimbang membangun infrastruktur transportasi baru. Demikian pendapat Profesor Jose A Gomez-Ibanez dari John F Kennedy School of Government Harvard University dalam dialog yang diadakan Nusantara Infrastructure.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

Pertamax Naik Lagi

RMOL.Pemerintah kembali menaikkan harga BBM non subsidi. Langkah tersebut dinilai akan berdampak pada meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi. Alhasil, pelanggan pertamax bakal berburu premium.

Pertamina pada Sabtu (15/1) menaikkan harga pertamax dan pertamax plus. Harga pertamax yang tadinya Rp 7.500 naik menjadi Rp 7.850. Sementara, pertamax plus dari harga Rp 7.900 menjadi Rp 8.100.

Sebelumnya, pada 1 Januari 2011 Pertamina menaikkan harga pertamax dari Rp 7.050 menjadi Rp 7.500 per liter. Sementara harga pertamax plus dari Rp 7.450 menjadi Rp 7.900 per liter

Vice President Coorporate Communication PT Pertamina (Persero) M Harun mengatakan, pihaknya tidak khawatir kenaikan harga pertamax akan berdampak beralihnya konsumen BBM non subsidi itu ke premium.

Menurut dia, kesadaran mas­yarakat terhadap penggunaan per­tamax sudah jauh lebih baik. Se­lain itu, masyarakat Indonesia sudah mulai sadar kebutuhan me­sin kendaraan dengan bahan ba­karnya. Apalagi, konsumen bia­sanya membeli pertamax ber­da­sarkan rupiah, bukan per liter.

“Mereka akan mengeluarkan uang yang sama, tapi volumenya saja yang berkurang,” katanya.

Biasanya, kata Harun, dampak kenaikan pertamax itu hanya akan berlangsung satu sampai dua hari saja.

“Memang hari pertama dan kedua terjadi pe­nurunan konsum­si pertamax. Tapi penurunannya hanya sekitar 5 persen, setelah itu stabil lagi,” jelas Harun.

Harun menegaskan, sampai sekarang tidak ada penambahan konsumsi premium terkait harga pertamax yang terus naik seiring dengan naiknya harga minyak dunia. Sebab, harga itu sudah dilepas ke pasar.

Meski begitu, Harun melihat kenaikan harga minyak dunia tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, kenaikan harga minyak sekarang disebabkan perubahan iklim dan efek ber­kurangnya stok minyak Amerika.

Oleh karena itu, kenaikan har­ga pertamax ini tidak akan meng­gangu rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan penggu­naan BBM bersubsidi.

Anggota Komisi VII DPR Ali Kastela menilai, terus naiknya harga pertamax berdampak pada peningkatan konsumsi BBM ber­subidi. Sebab, masyarakat yang tadinya menggunakan per­ta­max akan beralih menggu­nakan pre­mium yang harganya masih disubsidi.

“Tentu peningkatan konsumsi premium ini akan berdampak pa­da kuota BBM bersubsidi yang sudah ditentukan dalam APBN. Jadi pengguna pertamax akan berburu premium, “ kata Ali.

Apalagi kenaikan harga mi­nyak dunia diprediksi masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan, sesuai dengan perubahan iklim. “Jika harga pertamax terus naik, tentu akan membebani masyarakat,” ucapnya.

Anggota Fraksi Partai Hanura ini menilai, kondisi itu akan mengganggu kebijakan pe­me­rintah untuk melakukan pem­batasan penggunaan BBM ber­subsidi.

Dia berharap, pemerintah ke depannya harus bisa mengem­bangkan energi alternatif, seperti gas untuk transportasi umum. Jadi, ketika harga minyak naik, pemerintah tidak kebingungan.

Sebelumnya, Menteri Ke­u­angan (Menkeu) Agus Mar­to­wardojo mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi asumsi harga minyak pada Maret mendatang.

“Kalau asumsi kita lihat setiap tiga bulan, di akhir Maret kita lihat, di akhir Juni kita lihat,” ujar Agus.

Dengan demikian, lanjut Agus, berapa pun prediksi berbagai pi­hak me­ngenai harga minyak, pemerintah tidak akan mengubah asumsi makro dalam APBN 2011 pada waktu dekat. Dalam APBN, har­ga minyak sepanjang tahun se­besar 80 dolar AS per barel.

“Saya tersenyum mendengar World Bank mengatakan 85 do­lar AS (harga minyak dunia-red), karena saya berkeyakinan harga minyak akan naik tapi tidak akan terlalu tinggi sekali. Saya sambut baik prediksi World Bank,” kata Agus. [RM]

 

Pajak Progressif akan menjerat anda

Syubhan Akib – detikOto
Jakarta – Tahun 2011 baru memasuki bulan pertama. Tapi ternyata sudah banyak pemilik kendaraan yang kaget karena tiba-tiba disodori pajak kendaraan yang lebih tinggi dari biasanya karena terkena skema pajak progresif.
Seperti diketahui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sudah memberlakukan skema pajak progresif ini mulai tanggal 3 Januari 2011 untuk kendaraan bermotor baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Dengan skema pajak progresif ini maka para pemilik kendaraan lebih dari satu dipastikan akan dibebani pajak yang berkali lipat. Hal inilah yang membuat beberapa pihak ketar-ketir.
Saat ini seperti dilansir situs Komisi Kepolisian Indonesia dan dikutip
detikOto, Kamis (13/1/2011) diperkirakan terdapat 710 ribu unit kendaraan yang masuk dalam kategori kendaraan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dengan begitu diprediksi, kenaikan pendapatan pajak kendaraan bermotor (PKB) di tahun 2011 mencapai 5-7 persen.
Untuk mengantisipasi adanya penyalahgunaan alamat atau kepemilikan ganda yang ditujukan untuk menghindari penerapan pajak progresif, teknis penerapan pajak progresif akan dilakukan melalui nama dan alamat yang terdata pada Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Penerapan pajak progresif ini sendiri dimaksudkan untuk mengendalikan jumlah kendaraan yang ada di Jakarta dengan menerapkan pajak berlapis. Cara menghitung pajak progresif cukup mudah namun hasilnya sulit untuk diterima bagi beberapa kalangan.
Berikut caranya. Untuk kendaraan pertama maka hanya akan terkena pajak progresif sebesar 1,5 persen kali nilai jual untuk kendaraan pertama. Angka itu lalu meningkat untuk pajak kendaraan kedua yang dihitung 2 persen kali nilai jual, kendaraan ketiga harus membayar 2,5 persen kali nilai jual dan kendaraan keempat harus membayar 4 persen kali nilai jual.
Saat ini dari 710 kendaraan yang diperkirakan akan terkena skema pajak
progresif, diperkirakan ada 490 kendaraan yang digolongkan menjadi kendaraan kedua, terdiri dari 379 ribu roda dua dan 110 ribu roda empat.
Estimasi total jumlah kendaraan ketiga mencapai 111 ribu unit, terdiri dari 83 ribu roda dua dan 27 ribu roda empat. Serta estimasi total jumlah kendaraan keempat dan seterusnya mencapai 109 ribu unit, terdiri dari 73.400 roda dua dan 36 ribu roda empat.
Pemerintah DKI Jakarta sendiri menuturkan, kebijakan ini bukan untuk mengurangi kemacetan melainkan untuk mengendalikan pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

FOKE GAGAL MENGATASI KEMACETAN DI JAKARTA

NILAH.COM, Jakarta – Tahun 2010, merupakan puncak tahun kemacetan di wilayah DKI Jakarta. Busway, alat transportasi massa yang digadang-gadang menjadi alternatif kemacetan Ibukota, tak mampu menjadi solusi kemacetan.

Semua yang dilakukan Pemprov untuk mengatasi kemacetan baru sebatas permukaan dan belum tercapai secara optimal. “Belum. Tergantung sekarang,targetnya apa, kalau bicara kemacetan pasti tidak tercapai. Peningkatan angkutan umum baru parsial, ada busway tapi belum optimal, bukan fisik koridor tapi system, ada feedernya tapi belum jalan. Banyaklah PR-PR yang masih tersisa yang harus diselesaikan,” ungkap pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Alfin Syah kepada INILAH.COM, Rabu (22/12/2010).

Sangking parahnya kemacetan di Ibukota, beberapa waktu lalu muncul isu pemindahan Ibukota. Ide ini dimunculkan langsung oleh Presiden SBY. Sebab, Jakarta dianggap sudah tidak mampu lagi mengatasi kemacetan.

Segala kompleksitas kekecewaan ada di Jakarta, dan Pemerintah hingga kini, sejak Gubernur dilantik pada 2007, belum bisa mengatasi itu. Walau, dalam janji-janji kampanye mengatakan ‘Serahkan Jakarta Pada Ahlinya’.

Kejadian yang paling parah sepanjang tahun 2010 adalah saat banjir yang membuat kemacetan parah pada 25 Oktober 2010. Jakarta menjadi sorotan banyak pihak, hampir tidak ada celah untuk lewat, dan hampir tidak ada celah yang tidak tergenang.

Beberapa masyarakat bahkan berencana mengajukan gugatan publik terhadap Gubernur. Di beberapa jejaring sosial mempertanyakan kinerja Gubernur yang mereka nilai sangat rendah. Keesokan harinya, Gubernur menjawab keresahan warganya.

Namun, justru Gubernur ‘menyalahkan cuaca’. “Ini perubahan cuaca, dulu kita punya musim hujan dan kering tapi sepanjang tahun 2010 ini hujan terus,” ungkap Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, saat meninjau proyek gorong-gorong di jalan M.H.Thamrin Jakarta (26/10/2010).

Hingga kini, titik genangan masih menjadi problem apalagi ketika hujan turun. Intinya, kalau hujan turun, pasti banjir dan kalau banjir pasti macet. Walau tidak banjir, macet pun tetap terjadi apalagi kalau banjir.

November 2010, masalah ini menjadi keresahan pusat juga. Pada hari Selasa (09 November 2010), Gubernur Fauzi Bowo dan beberapa pejabat Pemprov DKI, bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), diantaranya adalah Emil Salim dan Ginanjar Kartasasmita.

Ginanjar mengatakan bahwa masalah kemacetan, banjir hingga sampah, sudah sangat kompleks sehingga harus sinergi antara Jakarta dengan beberapa daerah penyangga.

“Harus ada payung hukum yang menaungi wilayah lain seperti Bogor,Jakarta dan Tangerang” kata Ginanjar di gedung Wantimpres ketika itu.

Beberapa upaya yang dilakukan seperti penambahan ruas jalan hingga pelebaran, justru tidak bisa efektif. Sebab, ditengarai Pemprov tidak melihat akar permasalahannya, tapi justru terjebak pada proyek-proyek.

“Mau diperlebar berapapun, tidak akan mempengaruhi jika jumlah kendaraan tidak dibatasi,” kata pengamat transportasi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna kepada INILAH.COM, beberapa waktu yang lalu.

Sebab, katanya walau pemerintah sudah menjanjikan dengan pembangunan fly over dan sejenisnya, tapi ternyata justru tidak bisa menyelesaikan masalah kemacetan. “Dulunya katanya kalau dibangun fly over di Pancoran tidak akan macet. Tapi ternyata sekarang tetap macet juga,” ujarnya. [mah]

Waspadai arus Lalu Lintas Malam Tahun Baru 2010 di Kawasan tempat-tempat hiburan

Malam jelang penggantian tahun, arus lalu lintas menuju sejumlah tempat hiburan, seperti Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Impian Jaya Ancol, dipastikan sangat padat. Bagi pengguna jalan yang ingin menghindari kemacetan sebaiknya memilih jalan alternatif.

Dalam upaya menekan kemacetan, Ditlantas Polda Metro Jaya rencananya mengalihkan sebagian arus lalu lintas, namun hal ini dilakukan melihat situasi dan kondisi di lapangan. Yakni :

Arus lalu lintas dari Jalan Kopi menuju Stasiun Kota sampai Jalan Hayam Wuruk, arus lalu lintas diarahkan ke Jalan Mangga Dua Raya, sedangkan arus lalu lintas di Lampu Merah World Trade Centre, Mangga Dua, Gunung Sahari, diarahkan ke kiri, ke Bintang Mas Ancol.

Arus lalu lintas dari Jl. MT Haryono menuju Jl. Gatot Subroto sampai kawasan Pancoran akan diarahkan ke Jl. Pasar Minggu atau ke Jl. Saharjo. Kendaraan yang datang dari Pancoran ke Jl. Jend Sudirman menuju Monas akan diarahkan ke Jln. Rasuna Said.

Arus lalu lintas dari Kuningan ke Jl. Jend Sudirman dan Jl. MH Thamrin, sesampainya di Jembatan Semanggi, diarahkan memutar kembali ke kedua jalan itu. Di selatan, kendaraan yang datang dari Jalan Asia Afrika menuju Jalan MH Thamrin, sesampainya di Pintu Sembilan Senayan, diarahkan ke Jalan Hang Lekir.

Arus lalu lintas yang datang dari selatan ke utara Jalan MH Thamrin, sesampainya di Bundaran Hotel Indonesia (HI), akan diarahkan memutar kembali ke selatan menuju Jalan Jenderal Sudirman atau ke Jalan Kebon Kacang, Tanah Abang.

Arus lalu lintas dari Tomang, sesampainya di Harmoni, diarahkan ke Jalan Gajah Mada menuju Jakarta Kota atau ke arah Grogol. Kendaraan dari Grogol menuju Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin, sampai di Slipi, diarahkan ke Jalan KS Tubun, Jalan Jati Baru, Cideng Barat, Lampu Merah Tarakan, ke Tomang atau balik arah masuk jalan tol atau ke arah Grogol lewat Jalan Arteri.

Untuk menekan kemacetan, Ditlantas Polda Metro Jaya, menempatkan beberapa pos diantaranya : 4 pos di Jakarta Utara, 8 pos di Jakarta Barat, 8 pos di Jakarta Timur, 10 pos di Jakarta Selatan, dan 14 pos di Jakarta Pusat.

Sumber : TMC Polda Metro Jaya

Diposkan oleh Tio Alexander™ | di 16.31 |
Label: , ,

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.