Jelang Sidang Dakwaan Polisi Minta Massa Ba’asyir Gunakan Helm & Tak Naik Truk Terbuka

E Mei Amelia R : detikNews
detikcom – Jakarta, Satuan Lalu Lintas Polres Jakarta Selatan tidak akan membiarkan pengikut Abu Bakar Ba’asyir yang akan mengikuti sidangnya di PN Jaksel, melakukan pelanggaran lalu lintas di jalanan. Polisi menegaskan akan melakukan tindakan tegas jika pengikut Baasyir melakukan pelanggaran.

“Setiap pelanggaran lalu lintas, tentu akan kita tindak sesuai aturan yang berlaku,” kata Kasat Lantas Polres Jakarta Selatan Kompol Lilik Sumardi kepada detikcom, Ninggu (13/2/2011).

Polisi tidak memperkenankan massa menaiki truk terbuka. Terhadap massa yang menggunakan motor, polisi meminta agar pengikut Ba’asyir mengenakan helm.

“Helm itu kan untuk melindungi kepala, untuk keselamatannya sendiri. Dia berdosa kalau melanggar lalu lintas,” katanya.

Sidang yang diperkirakan akan dihadiri oleh ratusan warga dari berbagai daerah, diprediksi menimbulkan kemacetan. Polisi melarang pengunjung memarkirkan kendaraannya di jalanan di sekitar lokasi.

Guna mengantisipasi banyaknya kendaraan itu, polisi telah menyiapkan kantong parkir. Bagi pengunjung sidang, telah disediakan tempat parkir yang cukup di sekitar lokasi.

“Di depan pengadilan ada gang buntu, di situ ada lapangan di dalam. Kita masukkan semua kendaraan pengunjung sidang ke situ. Tidak boleh parkir sembarangan,” katanya.

Sementara itu, Lilik menyatakan, pihaknya tidak akan melakukan pengalihan arus selama lalu lintas lancer. Pengalihan arus dilakukan secara situasional jika kondisi alan sekitar pengadilan sudah macet.

Abu Bakar Baasyir akan menjalani sidang perdananya dengan agenda dakwaan terkait kasus teroris. Senin pekan lalu, sidang Baasyir sempat ditunda.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

2 Orang Tewas Krn tidak pake helm

2 Pemotor Tewas Dilindas Mobil di Puncak
07:07 February 14, 2011

CIANJUR, KOMPAS.com – Dua pengendara sepeda motor bernomor polisi F 4581 WN, tewas di tempat akibat terlindas mobil APV bernomor polisi F 1414 GQ, di Jalan Raya Puncak-Ciloto, Cianjur, Jawa Barat, Senin (14/2/2011) dini hari.
Pengendara sepeda motor dari arah Cipanas menuju Puncak itu diketahui melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha menyusul kendaraan di depannya.
Sedangkan dari arah berlawanan, mobil AVP warna merah juga melaju dengan kecepatan tinggi, berusaha kembali ke posisinya, usai menyalip kendaraan di depannya.
Pengendara sepeda motor yang belum diketahui identitasnya itu kehilangan kendali ketika melihat ada kendaraan lain dari arah berlawanan.
Ia diduga berusaha menghindari tabrakan dengan cara menginjak rem, namun kemudian tidak bisa menguasai laju sepeda motornya hingga terpelanting ke kanan jalan.
Tubuh pengendara sepeda motor terpelanting ke bagian bawah mobil yang masih melaju dengan kecepatan cukup tinggi itu hingga akhirnya tewas dengan kondisi kepala pecah.
“Pengendara sepeda motor yang terjatuh dilindas mobil yang masih melaju kencang. Sedangkan penumpangnya terpental ke jurang sedalam enam meter,” kata Aan (29) saksi mata tukang ojek yang biasa mangkal tidak jauh dari lokasi.
Saksi dan warga sekitar yang melihat peristiwa tersebut tidak berani menolong pengendara yang terjepit di bawah mobil. Namun warga sempat melaporkan kejadian tersebut pada petugas kepolisian.
Petugas dari Mapolsek Pacet, serta anggota Lantas Polres Cianjur, yang datang ke lokasi, berupaya mengeluarkan tubuh korban dari bawah mobil. Selain itu juga mengevakuasi korban lainnya yang jatuh ke jurang.
Setelah berhasil mengangkat jasad korban, petugas membawa keduanya ke RSU Cimacan, guna otopsi dan mencari tahu identitas keduanya.
“Saat ini jasad keduanya berada di ruang jenazah RSU Cimacan, kami masih mencari tahu indentitas keduanya. Sedangkan pengemudi mobil APV, saat ini kami amankan, guna dimintai keterangan,” kata anggota Lakalantas Polres Cianjur, yang enggan disebut namanya-Kompas 140211

posted by http://www.ordtraining.com via BB

Pengusaha menjerit karena Jalan macet

Kemacetan Jakarta yang memuncak saat hujan deras membuat kalangan pengusaha angkutan menjerit. Organisasi Pengusaha Angkutan Jalan Angkutan Khusus Pelabuhan dan PT Pelindo mendesak Jasa Marga segera membuka Jalan Tol Lingkar Luar Cakung.Karena hambatan lalu lintas, saat ini dari 15.000 truk peti kemas setiap hari rata-rata hanya beroperasi 6.000 truk. Bila lalu lintas macet parah, pengusaha kehilangan waktu pengantaran barang atau kehilangan rit sampai separuh. Titik kemacetan paling merugikan untuk angkutan peti kemas adalah jalur dari Tanjung Priok ke kawasan gudang Cakung, Tangerang, Cikarang, dan Daan Mogot.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

Kemacetan di Ibu Kota Kian Parah

Kemacetan yang terjadi di ibu kota Jakarta kian parah. Jalan-jalan utama hingga jalan-jalan kecil pun kini penuh dengan kendaraan. Bus transjakarta, yang menjadi salah satu solusi kemacetan, justru kini menimbulkan kemacetan baru di berbagai ruas jalan yang dilalui.Titik terparah terjadi di gerbang tol Slipi dan gerbang tol Tanjung Duren. Di dekat gerbang tol Slipi terjadi pertemuan kendaraan dari empat ruas jalan, yaitu arah Cawang, Permata Hijau, Palmerah, dan kendaraan yang berputar balik dari Grogol. Polres Jakarta Pusat memetakan titik-titik rawan macet di semua kecamatan. Kemacetan ada di Jalan Tambak, Sabang, Agus Salim, Kramat Raya, Salemba Raya, Bungur Raya, Raya Caringin, Hayam Wuruk, Gunung Sahari, Samanhudi, Angkasa, dan Garuda. Kemacetan di Ibu Kota juga berimbas ke daerah sekitarnya, seperti Kota Tangerang yang memiliki 35 titik kemacetan.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta mencatat kebutuhan perjalanan di DKI 20,7 juta perjalanan per hari. Pertumbuhan kendaraan pribadi tinggi, yakni 6,6 juta unit (98,5 persen) dari total pertambahan kendaraan. Pertambahan angkutan umum 91.082 unit (1,5 persen). Kemacetan ini menyumbangkan biaya besar yang harus ditanggung warga, sekitar Rp 35 triliun per tahun. Biaya itu termasuk pemborosan bahan bakar minyak, perbaikan kendaraan, biaya kesehatan, penurunan produktivitas, polusi udara, serta transaksi yang tertunda. Untuk mengatasi kemacetan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus fokus membenahi transportasi yang ada. Hal itu lebih mudah ketimbang membangun infrastruktur transportasi baru. Demikian pendapat Profesor Jose A Gomez-Ibanez dari John F Kennedy School of Government Harvard University dalam dialog yang diadakan Nusantara Infrastructure.

posted by http://www.ordtraining.com via BB

Pertamax Naik Lagi

RMOL.Pemerintah kembali menaikkan harga BBM non subsidi. Langkah tersebut dinilai akan berdampak pada meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi. Alhasil, pelanggan pertamax bakal berburu premium.

Pertamina pada Sabtu (15/1) menaikkan harga pertamax dan pertamax plus. Harga pertamax yang tadinya Rp 7.500 naik menjadi Rp 7.850. Sementara, pertamax plus dari harga Rp 7.900 menjadi Rp 8.100.

Sebelumnya, pada 1 Januari 2011 Pertamina menaikkan harga pertamax dari Rp 7.050 menjadi Rp 7.500 per liter. Sementara harga pertamax plus dari Rp 7.450 menjadi Rp 7.900 per liter

Vice President Coorporate Communication PT Pertamina (Persero) M Harun mengatakan, pihaknya tidak khawatir kenaikan harga pertamax akan berdampak beralihnya konsumen BBM non subsidi itu ke premium.

Menurut dia, kesadaran mas­yarakat terhadap penggunaan per­tamax sudah jauh lebih baik. Se­lain itu, masyarakat Indonesia sudah mulai sadar kebutuhan me­sin kendaraan dengan bahan ba­karnya. Apalagi, konsumen bia­sanya membeli pertamax ber­da­sarkan rupiah, bukan per liter.

“Mereka akan mengeluarkan uang yang sama, tapi volumenya saja yang berkurang,” katanya.

Biasanya, kata Harun, dampak kenaikan pertamax itu hanya akan berlangsung satu sampai dua hari saja.

“Memang hari pertama dan kedua terjadi pe­nurunan konsum­si pertamax. Tapi penurunannya hanya sekitar 5 persen, setelah itu stabil lagi,” jelas Harun.

Harun menegaskan, sampai sekarang tidak ada penambahan konsumsi premium terkait harga pertamax yang terus naik seiring dengan naiknya harga minyak dunia. Sebab, harga itu sudah dilepas ke pasar.

Meski begitu, Harun melihat kenaikan harga minyak dunia tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, kenaikan harga minyak sekarang disebabkan perubahan iklim dan efek ber­kurangnya stok minyak Amerika.

Oleh karena itu, kenaikan har­ga pertamax ini tidak akan meng­gangu rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan penggu­naan BBM bersubsidi.

Anggota Komisi VII DPR Ali Kastela menilai, terus naiknya harga pertamax berdampak pada peningkatan konsumsi BBM ber­subidi. Sebab, masyarakat yang tadinya menggunakan per­ta­max akan beralih menggu­nakan pre­mium yang harganya masih disubsidi.

“Tentu peningkatan konsumsi premium ini akan berdampak pa­da kuota BBM bersubsidi yang sudah ditentukan dalam APBN. Jadi pengguna pertamax akan berburu premium, “ kata Ali.

Apalagi kenaikan harga mi­nyak dunia diprediksi masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan, sesuai dengan perubahan iklim. “Jika harga pertamax terus naik, tentu akan membebani masyarakat,” ucapnya.

Anggota Fraksi Partai Hanura ini menilai, kondisi itu akan mengganggu kebijakan pe­me­rintah untuk melakukan pem­batasan penggunaan BBM ber­subsidi.

Dia berharap, pemerintah ke depannya harus bisa mengem­bangkan energi alternatif, seperti gas untuk transportasi umum. Jadi, ketika harga minyak naik, pemerintah tidak kebingungan.

Sebelumnya, Menteri Ke­u­angan (Menkeu) Agus Mar­to­wardojo mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi asumsi harga minyak pada Maret mendatang.

“Kalau asumsi kita lihat setiap tiga bulan, di akhir Maret kita lihat, di akhir Juni kita lihat,” ujar Agus.

Dengan demikian, lanjut Agus, berapa pun prediksi berbagai pi­hak me­ngenai harga minyak, pemerintah tidak akan mengubah asumsi makro dalam APBN 2011 pada waktu dekat. Dalam APBN, har­ga minyak sepanjang tahun se­besar 80 dolar AS per barel.

“Saya tersenyum mendengar World Bank mengatakan 85 do­lar AS (harga minyak dunia-red), karena saya berkeyakinan harga minyak akan naik tapi tidak akan terlalu tinggi sekali. Saya sambut baik prediksi World Bank,” kata Agus. [RM]

 

Pajak Progressif akan menjerat anda

Syubhan Akib – detikOto
Jakarta – Tahun 2011 baru memasuki bulan pertama. Tapi ternyata sudah banyak pemilik kendaraan yang kaget karena tiba-tiba disodori pajak kendaraan yang lebih tinggi dari biasanya karena terkena skema pajak progresif.
Seperti diketahui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sudah memberlakukan skema pajak progresif ini mulai tanggal 3 Januari 2011 untuk kendaraan bermotor baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Dengan skema pajak progresif ini maka para pemilik kendaraan lebih dari satu dipastikan akan dibebani pajak yang berkali lipat. Hal inilah yang membuat beberapa pihak ketar-ketir.
Saat ini seperti dilansir situs Komisi Kepolisian Indonesia dan dikutip
detikOto, Kamis (13/1/2011) diperkirakan terdapat 710 ribu unit kendaraan yang masuk dalam kategori kendaraan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dengan begitu diprediksi, kenaikan pendapatan pajak kendaraan bermotor (PKB) di tahun 2011 mencapai 5-7 persen.
Untuk mengantisipasi adanya penyalahgunaan alamat atau kepemilikan ganda yang ditujukan untuk menghindari penerapan pajak progresif, teknis penerapan pajak progresif akan dilakukan melalui nama dan alamat yang terdata pada Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Penerapan pajak progresif ini sendiri dimaksudkan untuk mengendalikan jumlah kendaraan yang ada di Jakarta dengan menerapkan pajak berlapis. Cara menghitung pajak progresif cukup mudah namun hasilnya sulit untuk diterima bagi beberapa kalangan.
Berikut caranya. Untuk kendaraan pertama maka hanya akan terkena pajak progresif sebesar 1,5 persen kali nilai jual untuk kendaraan pertama. Angka itu lalu meningkat untuk pajak kendaraan kedua yang dihitung 2 persen kali nilai jual, kendaraan ketiga harus membayar 2,5 persen kali nilai jual dan kendaraan keempat harus membayar 4 persen kali nilai jual.
Saat ini dari 710 kendaraan yang diperkirakan akan terkena skema pajak
progresif, diperkirakan ada 490 kendaraan yang digolongkan menjadi kendaraan kedua, terdiri dari 379 ribu roda dua dan 110 ribu roda empat.
Estimasi total jumlah kendaraan ketiga mencapai 111 ribu unit, terdiri dari 83 ribu roda dua dan 27 ribu roda empat. Serta estimasi total jumlah kendaraan keempat dan seterusnya mencapai 109 ribu unit, terdiri dari 73.400 roda dua dan 36 ribu roda empat.
Pemerintah DKI Jakarta sendiri menuturkan, kebijakan ini bukan untuk mengurangi kemacetan melainkan untuk mengendalikan pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta.

posted by http://www.ordtraining.com via BB