Pajak Progressif akan menjerat anda

Syubhan Akib – detikOto
Jakarta – Tahun 2011 baru memasuki bulan pertama. Tapi ternyata sudah banyak pemilik kendaraan yang kaget karena tiba-tiba disodori pajak kendaraan yang lebih tinggi dari biasanya karena terkena skema pajak progresif.
Seperti diketahui Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sudah memberlakukan skema pajak progresif ini mulai tanggal 3 Januari 2011 untuk kendaraan bermotor baik untuk kendaraan roda dua maupun roda empat.
Dengan skema pajak progresif ini maka para pemilik kendaraan lebih dari satu dipastikan akan dibebani pajak yang berkali lipat. Hal inilah yang membuat beberapa pihak ketar-ketir.
Saat ini seperti dilansir situs Komisi Kepolisian Indonesia dan dikutip
detikOto, Kamis (13/1/2011) diperkirakan terdapat 710 ribu unit kendaraan yang masuk dalam kategori kendaraan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dengan begitu diprediksi, kenaikan pendapatan pajak kendaraan bermotor (PKB) di tahun 2011 mencapai 5-7 persen.
Untuk mengantisipasi adanya penyalahgunaan alamat atau kepemilikan ganda yang ditujukan untuk menghindari penerapan pajak progresif, teknis penerapan pajak progresif akan dilakukan melalui nama dan alamat yang terdata pada Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Penerapan pajak progresif ini sendiri dimaksudkan untuk mengendalikan jumlah kendaraan yang ada di Jakarta dengan menerapkan pajak berlapis. Cara menghitung pajak progresif cukup mudah namun hasilnya sulit untuk diterima bagi beberapa kalangan.
Berikut caranya. Untuk kendaraan pertama maka hanya akan terkena pajak progresif sebesar 1,5 persen kali nilai jual untuk kendaraan pertama. Angka itu lalu meningkat untuk pajak kendaraan kedua yang dihitung 2 persen kali nilai jual, kendaraan ketiga harus membayar 2,5 persen kali nilai jual dan kendaraan keempat harus membayar 4 persen kali nilai jual.
Saat ini dari 710 kendaraan yang diperkirakan akan terkena skema pajak
progresif, diperkirakan ada 490 kendaraan yang digolongkan menjadi kendaraan kedua, terdiri dari 379 ribu roda dua dan 110 ribu roda empat.
Estimasi total jumlah kendaraan ketiga mencapai 111 ribu unit, terdiri dari 83 ribu roda dua dan 27 ribu roda empat. Serta estimasi total jumlah kendaraan keempat dan seterusnya mencapai 109 ribu unit, terdiri dari 73.400 roda dua dan 36 ribu roda empat.
Pemerintah DKI Jakarta sendiri menuturkan, kebijakan ini bukan untuk mengurangi kemacetan melainkan untuk mengendalikan pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta.

posted by www.ordtraining.com via BB

FOKE GAGAL MENGATASI KEMACETAN DI JAKARTA

NILAH.COM, Jakarta – Tahun 2010, merupakan puncak tahun kemacetan di wilayah DKI Jakarta. Busway, alat transportasi massa yang digadang-gadang menjadi alternatif kemacetan Ibukota, tak mampu menjadi solusi kemacetan.

Semua yang dilakukan Pemprov untuk mengatasi kemacetan baru sebatas permukaan dan belum tercapai secara optimal. “Belum. Tergantung sekarang,targetnya apa, kalau bicara kemacetan pasti tidak tercapai. Peningkatan angkutan umum baru parsial, ada busway tapi belum optimal, bukan fisik koridor tapi system, ada feedernya tapi belum jalan. Banyaklah PR-PR yang masih tersisa yang harus diselesaikan,” ungkap pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Alfin Syah kepada INILAH.COM, Rabu (22/12/2010).

Sangking parahnya kemacetan di Ibukota, beberapa waktu lalu muncul isu pemindahan Ibukota. Ide ini dimunculkan langsung oleh Presiden SBY. Sebab, Jakarta dianggap sudah tidak mampu lagi mengatasi kemacetan.

Segala kompleksitas kekecewaan ada di Jakarta, dan Pemerintah hingga kini, sejak Gubernur dilantik pada 2007, belum bisa mengatasi itu. Walau, dalam janji-janji kampanye mengatakan ‘Serahkan Jakarta Pada Ahlinya’.

Kejadian yang paling parah sepanjang tahun 2010 adalah saat banjir yang membuat kemacetan parah pada 25 Oktober 2010. Jakarta menjadi sorotan banyak pihak, hampir tidak ada celah untuk lewat, dan hampir tidak ada celah yang tidak tergenang.

Beberapa masyarakat bahkan berencana mengajukan gugatan publik terhadap Gubernur. Di beberapa jejaring sosial mempertanyakan kinerja Gubernur yang mereka nilai sangat rendah. Keesokan harinya, Gubernur menjawab keresahan warganya.

Namun, justru Gubernur ‘menyalahkan cuaca’. “Ini perubahan cuaca, dulu kita punya musim hujan dan kering tapi sepanjang tahun 2010 ini hujan terus,” ungkap Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, saat meninjau proyek gorong-gorong di jalan M.H.Thamrin Jakarta (26/10/2010).

Hingga kini, titik genangan masih menjadi problem apalagi ketika hujan turun. Intinya, kalau hujan turun, pasti banjir dan kalau banjir pasti macet. Walau tidak banjir, macet pun tetap terjadi apalagi kalau banjir.

November 2010, masalah ini menjadi keresahan pusat juga. Pada hari Selasa (09 November 2010), Gubernur Fauzi Bowo dan beberapa pejabat Pemprov DKI, bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), diantaranya adalah Emil Salim dan Ginanjar Kartasasmita.

Ginanjar mengatakan bahwa masalah kemacetan, banjir hingga sampah, sudah sangat kompleks sehingga harus sinergi antara Jakarta dengan beberapa daerah penyangga.

“Harus ada payung hukum yang menaungi wilayah lain seperti Bogor,Jakarta dan Tangerang” kata Ginanjar di gedung Wantimpres ketika itu.

Beberapa upaya yang dilakukan seperti penambahan ruas jalan hingga pelebaran, justru tidak bisa efektif. Sebab, ditengarai Pemprov tidak melihat akar permasalahannya, tapi justru terjebak pada proyek-proyek.

“Mau diperlebar berapapun, tidak akan mempengaruhi jika jumlah kendaraan tidak dibatasi,” kata pengamat transportasi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna kepada INILAH.COM, beberapa waktu yang lalu.

Sebab, katanya walau pemerintah sudah menjanjikan dengan pembangunan fly over dan sejenisnya, tapi ternyata justru tidak bisa menyelesaikan masalah kemacetan. “Dulunya katanya kalau dibangun fly over di Pancoran tidak akan macet. Tapi ternyata sekarang tetap macet juga,” ujarnya. [mah]

Waspadai arus Lalu Lintas Malam Tahun Baru 2010 di Kawasan tempat-tempat hiburan

Malam jelang penggantian tahun, arus lalu lintas menuju sejumlah tempat hiburan, seperti Taman Mini Indonesia Indah dan Taman Impian Jaya Ancol, dipastikan sangat padat. Bagi pengguna jalan yang ingin menghindari kemacetan sebaiknya memilih jalan alternatif.

Dalam upaya menekan kemacetan, Ditlantas Polda Metro Jaya rencananya mengalihkan sebagian arus lalu lintas, namun hal ini dilakukan melihat situasi dan kondisi di lapangan. Yakni :

Arus lalu lintas dari Jalan Kopi menuju Stasiun Kota sampai Jalan Hayam Wuruk, arus lalu lintas diarahkan ke Jalan Mangga Dua Raya, sedangkan arus lalu lintas di Lampu Merah World Trade Centre, Mangga Dua, Gunung Sahari, diarahkan ke kiri, ke Bintang Mas Ancol.

Arus lalu lintas dari Jl. MT Haryono menuju Jl. Gatot Subroto sampai kawasan Pancoran akan diarahkan ke Jl. Pasar Minggu atau ke Jl. Saharjo. Kendaraan yang datang dari Pancoran ke Jl. Jend Sudirman menuju Monas akan diarahkan ke Jln. Rasuna Said.

Arus lalu lintas dari Kuningan ke Jl. Jend Sudirman dan Jl. MH Thamrin, sesampainya di Jembatan Semanggi, diarahkan memutar kembali ke kedua jalan itu. Di selatan, kendaraan yang datang dari Jalan Asia Afrika menuju Jalan MH Thamrin, sesampainya di Pintu Sembilan Senayan, diarahkan ke Jalan Hang Lekir.

Arus lalu lintas yang datang dari selatan ke utara Jalan MH Thamrin, sesampainya di Bundaran Hotel Indonesia (HI), akan diarahkan memutar kembali ke selatan menuju Jalan Jenderal Sudirman atau ke Jalan Kebon Kacang, Tanah Abang.

Arus lalu lintas dari Tomang, sesampainya di Harmoni, diarahkan ke Jalan Gajah Mada menuju Jakarta Kota atau ke arah Grogol. Kendaraan dari Grogol menuju Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan MH Thamrin, sampai di Slipi, diarahkan ke Jalan KS Tubun, Jalan Jati Baru, Cideng Barat, Lampu Merah Tarakan, ke Tomang atau balik arah masuk jalan tol atau ke arah Grogol lewat Jalan Arteri.

Untuk menekan kemacetan, Ditlantas Polda Metro Jaya, menempatkan beberapa pos diantaranya : 4 pos di Jakarta Utara, 8 pos di Jakarta Barat, 8 pos di Jakarta Timur, 10 pos di Jakarta Selatan, dan 14 pos di Jakarta Pusat.

Sumber : TMC Polda Metro Jaya

Diposkan oleh Tio Alexander™ | di 16.31 |
Label: , ,

BANTEN BIKIN MONORAIL

Berita ini mengejutkan dan memberikan angin segar pemecah kebuntuan transportasi yang sudah kadung carut marut.  Khususnya Jakarta, Fauzi Bowo terkesan tidak peduli dengan keadaan ini justru malah menyalahkan para pengguna jalan yang tdak disiplin, parkir yang nggak beraturan, lah ini kan kekuasaan ente dan ente pula yang mimpin kok bisa bilang masyarakat yang salah.  Ucapan fauzi bowo ini terungkap dalam acara Demi Bangsa yang ditayangkan oleh MNCTV episode ke III  tayang pada hari Senen jam 23.00 tanggal 19 Desember 2010. Suatu bentuk kegagalan Fauzi Bowo sebagai pemimpin Jakarta. Lupakanlah cerita kegagalan transportasi di era Fauzi Bowo. Kita beralih ke wilayah yang di kelola oleg Gubernur perempuan Ratu Atut, dengan mencengangkan membuat terobosan Monorel dari Tangerang Selatan melewati BSD, Citra Raya menunju Bandara Soetta.

Biaya yang diperlukan tidak sedikit yakni 3 trilyun, tapi jangan lupa berapa banyak subsidi bbm yang bisa dihemat karena pembangunan monorel ini.  Sebagai informasi subsidi BBM Indonesia tahun 2010 adalah 57,4 trilyun (sumber solopos ) nah 3 trilyun pembangunan monirail itu hanya 0.52 persen dari subsidi BBM !!! Bayangkan berapa banyak penghematan yang bisa dilakukan. Pemerintah pusat harus membuat Garis Besar Haluan Negara…tidak hanya menonton bola saja. Tapi saatnya Pemerintah Pusat membuat karya nyata  yang ilmiah demi bangsa dimasa yang akan datang.

Kita flash back kebelakang apa yang dibuat oleh pemimpin kita masa lalu ?  bung Karno membuat semanggi, jalan bypas dan pertumbuhan ruas jalan berimbang dengan jumlah kendaraan yang ada. Peluncuran kereta api sebagai transportasi masal kearah bandung maupun Yogya Solo dan Surabaya hingga Banyuwangi. Jaman pak Soeharto, tol double decker, perluasan semanggi, swastanisasi kereta api, tol jakarta bogor, jakarta – cicampek, tol Jakarta- Merak, outer ring road, inner ring dan masih banyak lagi. Megawati saya nggak mendengarnya, Gus Dur sama saja, SBY nggak ada bedanya. Nah kalau gitu gimana kita tidak rindu masa lalu dimana dolar hanya 2500 rupiah pe 1 USD sekarang 4 kali lipatnya.

Cerita ini hanya menggambarkan bagaimana pemimpin negeri kita masih sangat sektarian tanpa memikirkan kepentingan bangsa yang lebih besar.  Marilah kita introspeksi untuk kebaikan bangsa kita dan mari kita sambut rencana monumental dari pemprov Banten agar rencana pembangunan monorel bisa terwujud dengan cepat dan semoga pemprov lainnya juga mengikuti.

Antisipasi Hemat Bahan Bakar

pengumuman pemerintah sudah jelas bahwa mulai maret bahan bakar bersubsidi hanya untuk kendaraan umum, nah padahal saat ini pertamax sudah mulai merangkak naik. Kalau sudah begini  kita harus mengencangkan ikat pinggang dan mensiasati biaya pengeluaran. Nah salah satu caranya adalah dengan mempertimbangkan kembali menukar mobil anda dengan yang hemat bahan bakar. Mobil apa saja yang hemat bahan bakar ?  pilihannya adalah Kia Picanto, suzuki katana, aveo, hyundai avega, estillo dan masih banyak lagi. Bahkan mercedes mengeluarkan kendaraan dengan dua pintu dengan nama smart dan smart ini diklaim sebagai kendaraan 2 seater dengan bahan bakar sangat irit yakni 21.7 km l walaupun harganya cukup mahal yakni 249 juta tetapi sangat bermanfaat dalam penekanan penggunaan bbm yang tahun ini mencapai 331,6 juta kilo liter !!! bukan main. Ini terjadi karena kembali lagi pemerintah tidak mempunyai program jangka panjang moda transportasi masal. coba bandingkan dengan lalulintas dan sistem transportasi di hongkong sangat kontras perbandingannya. Tak heran terjadi pemborosan bbm dinegara kita dan 30 persen terbuang percuma karena kemacetan dan transportasi yang tidak produktif.

Nah bagaimana kita mensiasatinya, ? lakukan ecodriving, usahakan menggunakan kendaraan umum kalau memungkinkan, alternatif berikutnya gunekan kendaraan non bbm seperti sepeda. Tidak memungkinkan juga maka beli kendaraan ramah lingkungan dan irit bahan bakar.

Dibawah ini adalah contoh kendaraan hemat bbm

Baban Gandapurnama – Sumber detikOto

 

Gambar
Gambar

Bandung – Mendengar kata Rajawali, ingatan akan kita langsung mengarah pada burung yang bisa terbang tinggi. Namun Rajawali yang ini tidak bisa terbang, namun bisa
membawa kita sejauh 3.200 kilometer dengan 1 liter bensin saja.

Ya, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (TB) berhasil merakit sebuah mobil hemat BBM yang rencananya akan ikut kejuaraan Shell Echo Marathon Asia 2010.

Mobil itu dinamai ‘Rajawali’ dan dirakit Tim Rajawali Indonesia ITB. Mobil berbentuk kapsul yang terinspirasi oleh bentuk tetes air mata ini, hanya membutuhkan 1 liter bensin untuk menempuh jarak 3.200 kilometer.

Menurut perwakilan Tim Rajawali, Rianto, mobil tersebut akan ikut kejuaraan Shell Eco Maraton di Sepang, Malaysia, tanggal 8-10 Juli 2010 mendatang.

“Ya nanti mobil ini akan mengikuti kejuaraan untuk kategori Futuristic Prototype. Dan tim kita terdiri dari 14 orang,” tuturnya ketika ditemui di sela-sela pengenalan mobil ‘Rajawali’ di kampus ITB Jalan Ganeca, Bandung Senin (26/4/2010).

Meski begitu ia mengaku belum menguji coba mobil tersebut.  “Kalau diilustrasikan jarak 3.200 km ini 3 kali bolak-balik Jakarta Surabaya. Ini baru target tapi belum diuji,” terangnya.

Spesifikasi mobil sendiri sangat mantap karena bodi mobil terbuat dari carbon fiber dipadu resin. Mesinnya sendiri berkapasitas 35 cc yang diadopsi dari mesin pemotong rumput. Menggunakan 1 silinder dengan 1,6 daya kuda. Sementara untuk ban, menggunakan ban sepeda 16 inci.

Benang Kusut Transportasi Publik di Jakarta

Disadur dari : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=69902

Sabtu, 11 Desember 2010

Wijiasih, 31 tahun, hampir setiap hari dibuat deg-degan ketika berangkat ke kantor di pagi hari. Masalahnya, setiap hari ia harus menghadapi kemacetan di perempatan Matraman akibat Transjakarta koridor IV terlalu lama transit. “Hampir setiap hari saya menghadapi kemacetan yang sama tanpa ada perubahan,” sungutnya. Wiji mengaku di perempatan Matraman hampir setiap hari ia harus membuang waktu lebih kurang 30 menit dalam posisi berdiri.

Lamanya bus yang punya jalur khusus itu transit, menurut Wiji, disebabkan oleh penyerobotan mobil pribadi atau angkutan lain. Selain itu, terlalu singkatnya nyala lampu hijau membuat bus yang berada di belakang tidak sempat melewati perempatan. Ia mengeluh, Transjakarta yang notabene memiliki jalur khusus yang diharapkan menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan di Jakarta masih saja mengalami kemacetan.

“Kalau ini yang terus terjadi, maka jangan disalahkan jika masih banyak orang menggunakan mobil pribadi,” tambahnya. Bagi Wiji, naik Transjakarta merupakan pilihan yang paling baik ketimbang harus menggunakan angkutan lain. Seandainya ada alat transportasi lain yang murah dan cepat, tentu ia akan memilihnya. Ia merasa beruntung karena hanya mengalami kemacetan saat menumpang Transjakarta. Keprihatinan lain terhadap angkutan umum diungkapkan oleh Solihin, 27 tahun.

Warga Pasar Minggu ini setiap hari harus naik metromini yang menurutnya tidak layak untuk sampai ke tempat kerjanya di kawasan Thamrin. Asap tebal mengepul, atap bocor saat hujan, kendaraan berjalan miring, ban yang terasa seperti tidak bundar, dan bangku jebol adalah hal biasa yang sering dia alami. “Walaupun keluhan seperti ini sudah sering disampaikan, perbaikan atau peremajaan armada tidak pernah dilakukan,” ujarnya.

Sementara itu, Mardiana, 48 tahun, ibu rumah tangga, mengusulkan sebaiknya transportasi umum bebas dari pengamen dan pengasong. Baginya, para pengamen dan pengasong membuatnya selalu waswas dan tidak nyaman selama di perjalanan. Transportasi yang baik, menurutnya, harus mampu memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang wanita seperti dirinya. Karena khawatir menggunakan transportasi umum massal ini, ia lebih sering menggunakan taksi untuk bepergian, itu pun harus didampingi oleh anak atau saudaranya.

Ini baru menyangkut persoalan Transjakarta dan bus umum, belum termasuk angkutan kereta api, bajaj, dan mikrolet yang kondisinya setali tiga uang. Angkutan kereta api listrik kelas ekonomi yang berjejal ketika jam sibuk merupakan bukti rendahnya pelayanan di bidang angkutan publik. Memang, diakui oleh semua pihak, transportasi publik di Jakarta dan Indonesia pada umumnya belumlah ideal. Apalagi dibandingkan dengan negara maju yang pelayanannya sudah memenuhi standar minimal.

Masih Semrawut Pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Heru Sutomo, mengatakan Jakarta harus membangun angkutan massal yang baik. Jakarta perlu meningkatkan moda transportasi massal ketimbang mobil pribadi untuk bekerja. “Di Jepang, 95 persen masyarakat menggunakan angkutan kereta api, dan sisanya menggunakan bus,” katanya. Dengan populasi penduduk Jakarta yang mencapai 8,5 juta jiwa, dibutuhkan modernisasi seperti kota metropolitan di negara maju. Transportasi publik yang baik erat kaitannya dengan produktivitas masyarakat.

Pelayanan buruk dari transportasi publik jelas menghambat pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Menurut Defny Holidin, pengamat kebijakan publik dari FISIP Universitas Indonesia, transportasi publik di Jakarta masih begitu semrawut atau belum terkelola dengan baik. Di Jerman, semua moda transportasi yang ada sudah terintegrasi dengan baik. “Pengguna jarang sekali mengalami keterlambatan karena semuanya sudah terjadwal dengan rapi,” ujarnya.

Sebaliknya di Indonesia, masyarakat harus mengalami ketidakpastian. Kenyataan ini harus diperbaiki oleh pemerintah, swasta, dan semua pihak yang terkait dengan sistem yang terintegrasi. Integrasi bukan hanya dari pelayanan, namun juga tarif. Sebaiknya mereka yang menggunakan KRL kemudian dilanjutkan dengan Transjakarta atau sebaliknya tidak dikenakan ongkos lagi. Defny menyatakan heran lantaran hingga sekarang ini pemerintah belum memiliki desain besar untuk membenahi transportasi publik.

Menurutnya, hanya dengan desain besar permasalahan transportasi publik dapat diatasi satu demi satu. Dengan desain besar, akan dibentuk kelembagaan, sistem managerial, dan teknis sehari-hari. Lewat desain besar, reformasi pelayanan transportasi publik yang bermuara pada aspek pelayanan prima dapat dicapai. Menurut Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Transportasi Soetanto Soehodo, yang harus dibenahi untuk mengatasi permasalahan transportasi publik di Jakarta adalah sistem yang berlaku.

Kecuali Transjakarta, peng upahan dengan menerapkan sistem setoran harus diubah. Mekanisme model sistem setoran berdampak dilupakannya hak penumpang. Mereka akan ngetem atau kebutkebutan dengan pesaing demi memenuhi target setoran. “Sistem setoran nggak fair. Memberikan hak pengelolaan kepada orang lain yang semua dibebankan ke pundak sopir,” ujarnya. Dalam pandangan Soetanto, yang bertanggung jawab terhadap jalannya armada adalah pemilik dan operator di lapangan.

Pemiliki jangan hanya memikirkan keuntungan dan lepas tangan terhadap pelayanan. Dari sisi pemerintah, untuk mengatasi buruknya kondisi armada, seharusnya ada pembatasan usia kendaraan. Kendaraan yang telah melebihi usia tujuh tahun harus dikandangkan karena pada umur ini biasanya armada telah mengalami bermacammacam gangguan. Masyarakat, menurut Soetanto, juga harus berperan dalam mendukung perbaikan.

Masyarakat harus memprotes jika pelayanan yang diberikan tidak memuaskan. Selain kontrol dari pemerintah berupa pembatasan usia kendaraan dan keur kendaraan, masyarakat perlu melakukan kontrol sosial. Defny mengatakan rendahnya mutu pelayanan transportasi publik tidak lepas juga dari padatnya kendaraan di jalanan.

Perjalanan angkutan umum sering terhambat karena padatnya kendaraan pribadi dan motor. Seharusnya pemerintah memberlakukan pajak progresif yang tinggi bagi mobil agar masyarakat mau beralih ke angkutan umum. Sementara itu, anggota pengurus YLKI Tulus Abadi mengatakan yang perlu dibenahi dalam transportasi publik adalah mahalnya biaya yang dikeluarkan masyarakat.

Rata-rata masyarakat menghabiskan 30 persen dari pendapatan mereka untuk ongkos transportasi karena mereka harus berganti-ganti trayek untuk sampai ke tujuan. Idealnya, transportasi yang terintegrasi hanya membebankan sekali ongkos, bukan malah bergantiganti dan membayar berkali-kali.
hay/L-1

KA Bandara Soeta Hanya Bisa Menjadi Mimpi?

Disadur dari harian umum pelita http://www.pelita.or.id/baca.php?id=67754

KA Bandara Soeta Hanya Bisa Menjadi Mimpi?

PELAKSANAAN pembangunan mega proyek kereta api (KA) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soeta), Cengkareng senilai Rp2,2 triliun hanya bisa menjadi mimpi. Pasalnya, proyek bergengsi itu setelah diambil-alih pemerintah dalam hal ini Departemen Pehubungan (Dephub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian satu tahun lalu, nasibnya semakin tidak pasti.
Optimisme Dephub dimasa Menhub Hatta Rajasa maupun PT RaiLink yang dinyatakan sebelumnya bahwa proyek angkutan massal itu akan selesai dan sudah bisa dioperasikan September 2009, tidak akan menjadi kenyataan.
Rencana pembangunan KA Bandara Soeta telah dilansir sejak tiga tahun lalu. Namun apa hendak dikata, semua rencana itu buyar. Bahkan semua instansi yang terkait dengan mega proyek itu seolah-olah bingung, karena harus menyesuaikan dengan Keppres No 80/2005 tentang Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintahan, kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, pekan lalu di Jakarta. Nasib kelanjutan KA Bandara Soekarno-Hatta hingga saat ini belum jelas. Belum jelas. Mereka sendiri masih bingung, katanya.
Proyek itu sendiri awalnya diperkirakan hanya bernilai Rp900 miliar dan akhirnya berkembang menjadi Rp2,2 triliun. Anehnya perkembangan nilai proyek tersebut sampai sekarang masih dipertanyakan banyak pihak.
Molornya pelaksanaan proyek yang semula diperkirakan pekerjaan konstruksinya paling cepat akhir 2008, tetapi kenyataannya sampai sekarang; belum ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Proyek itu sendiri, diharapkan menjadi percontohan sistem angkutan terpadu, antara moda KA, darat serta udara karena arus penumpang udara ke Bandara Soekarno-Hatta trendnya terus meningkat sehingga diperlukan akses alternatif.
Proyek ini digagas pada saat Menhub dijabat oleh Hatta Rajasa, dan Dirjen Perkeretaapian dijabat oleh Soemino Eko Saputra tiga tahun lalu. Kini jabatan Menhub dalam dua tahun terakhir digantikan oleh Jusman Syafii Djamal dan jabatan Dirjen Perkeretaapin sudah dua kali diganti, namun greget dari proyek itu semakin mengendor.
Bahkan, ketika Dirjen Perkeretaapian Dephub dijabat Wendy Aritenang Yazid (kini Staf Ahli Menhub), saat itu pemerintah memberikan kemudahan fasilitas agar proyek KA Bandara Soeta segera dibangun.
Fasilitas itu, antara lain berupa percepatan pemberian izin trase sampai konsesi penyelenggaraan KA Bandara. Termasuk juga penggunaan Dukuh Atas sebagai city air terminal,.
KA Bandara jalur Manggarai-Soekarano-Hatta akan menempuh jarak 32,73 Km (melintasi Dukuh Atas-Tanah Abang-Angke-Pluit-Pantai Indah Kapuk-Terminal 1 dan 3 Soekarno-Hatta); dan dibangun di atas tanah mengikuti jalur jalan tol Bandara.
Pemerintah pun pernah membentuk konsorsium KA Bandara yang dimotori oleh PT RaiLink, perusahaan patungan PT KA dan PT Angkasa Pura II (keduanya perusahaan BUMN). Dirut PT RaiLink, Masjraul Hidayat, sebelumnya pernah menyebutkan bahwa peminat dari proyek itu cukup banyak. Peminatnya banyak. Sedikitnya 10 investor dari dalam dan luar negeri sudah tertarik dan hal ini sudah disampaikan pada ajang Indonesia Infrastructure 2006, katanya.
Sebenarnya walaupun rencana pemerintah untuk mengambil-alih proyek KA Bandara kian bulat, optimistisme tetap ditunjukkan Direktur Utama PT RaiLink Masjraul Hidayat. Bahkan, dia menegaskan, proyek pembangunan bisa diselesaikannya paling lambat pertengahan 2009. Insya-Allah, pertengahan 2009 KA Bandara bisa operasional. Saya optimistis PT RaiLink bisa menyelesaikan proyek ini secepatnya, ujarnya.
Namun, sayang, Masjraul enggan berkomentar lebih jauh perihal rencana pengambilalihan proyek KA Bandara oleh pemerintah. Saat ini, pihaknya masih terkonsentrasi pada pembahasan tentang pembebasan lahan sepanjang 9,3 Km di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, yang dilakukan bersama Pemprov DKI Jakarta. Dia menargetkan, pembebasan lahan itu sendiri bisa selesai akhir 2007.
Selain membahas pembebasan lahan, pihaknya kini juga masih melakukan penggarapan desain struktur pembangunan KA Bandara. Kami juga menargetkan, desain akan rampung pada akhir 2007. Sehingga proses pembangunan konstruksi bisa dilakukan pada awal 2008, katanya.
Desain ini bukan baru kami buat, tetapi kami sempurnakan lagi, kami perbarui. Karena nantinya, KA tidak hanya sampai batas luar Bandara Soeta. Tetapi, bisa beroperasi sampai ke terminal-terminal penumpang, lanjutnya.
Terkait rencana pengambilalihan proyek KA Bandara, Dephub telah menyiapkan anggaran khusus dalam APBN 2008. Dirjen Perkeretaapian Soemino Ekosaputro saat itu mengatakan, langkah itu akan disinergikan dengan rencana kerja membangun 80 Km jalur rel KA baru, senilai Rp1 triliun. Salah satunya, kami akan bangun double track Duri-Tangerang yang akan kami teruskan dari Kalideres menuju Soekarno-Hatta, ujarnya.
Pembangunan jalur ganda Duri-Tangerang sepanjang 23 Km guna merealisasikan sistem jalur ganda di seluruh lintasan KA Jabotabek. Sejak awal, rencana pembangunan ini berhubungan dengan jalur KA Bandara dari Manggarai menuju Bandara Soeta sepanjang 30,3 Km, ujarnya.
Saat ini, PT RaiLink juga tengah menggarap proyek pembangunan KA menuju Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara; senilai Rp15 miliar. Dipastikan, jalur baru KA yang menghubungkan Arah Kabu dan lokasi Bandara Kualanamu itu akan lebih dahulu selesai ketimbang proyek KA Manggarai-Soekarno-Hatta.
Alasannya, selain panjang jalur yang akan dibangun jauh lebih pendek (1 Km), keberadaan jalur KA baru itu juga akan sangat membantu proses pembangunan Bandara Kualanamu. Kemungkinan memang akan lebih dulu. Karena KA bisa digunakan untuk mengangkut bahan-bahan proyek, serta alat-alat berat untuk pembangunan. Lagi pula, rutenya lebih pendek, kata Masjraul.(yahya)

Ini adalah berita yang saya sunting dari harian Pelita, kembali birokrasi menjadi urusan transportasi massal menjadi terbentur. Tumpang tindih antara kepentingan pusat dan daerah saling lempar tanggung jawab mengakibatkan kemunduran pembangunan sarana transportasi masal diseluruh lini (bandara, pelabuhan, maupun bandara). Dahulu sudah dipikirkan oleh menhub jaman Orde Baru moda transportasi terintegrasi dan menjadikan manggarai sebagai sentral transportasi masal dimana disitu bertemu seluruh simpul transportasi baik kereta api, maupun bus. Kembali, ganti pemerintah ganti pula kebijakan. Semoga kita bisa belajar dari negeri yang dekat seperti Singapore, Malaysia atau Hongkong

Lalulintas Hongkong yang tertib

Perjalanan saya kali ini menjelajah hongkong dan sekitarnya dari tanggal 3 – 8 November 2010. pulau yang saya kunjungi adalah Lantau, Island dan Kowloon dan New Territories). Kembali indonesia sangat kalah jauh dibandingkan dengan lalulintas di Negara Bagian China yang sudah diserahkan oleh  Koloni Inggris ini.  Saya bertemu dengan rekan dari India dan mereka tanya saya asal dari mana, kemudian saya bilang Indonesia. Wah mereka menertawakan lalulintas Jakarta. Bayangkan orang India saja melecehkan lalulintas Indonesia apalagi negara maju. Wah pokoknya malu lah kalau kita cerita lalulintas Negeri Sendiri. Rekan saya cerita bahwa dia pernah ke Indonesia dan dari kantor Telkomsel ke J.W, Marriot tempat dia nginap perlu waktu 2 jam saat jam pulang kantor. Crazy Jakarta Traffict, masa cuma seberang jalan bisa 2 jam, wah lebih baik jalan kaki katanya. Sialnya dia nggak tahu jalan, setelah tau dekat dia mengumpat hahaha.

Its crazy katanya berulang ulang dan setelah kejadian itu dia tidak mau lagi ditugaskan ke Jakarta. wah memalukan ya….well mudah mudahan cerita saya disini bisa dibaca oleh petinggi negeri kita dan dijadikan cermininan pengelolaan transportasi di Indonesia mulai Dishub, Departemen of Transportation dan pihak pihak terkait. Ga usah jauh jauh nyontoh Bogota lah, yang deket aja Singapore dan Hongkong bisa jadi contoh. Kita sudah lelah menunggu lalulintas kita bisa lebih baik dari negeri lain.

Satu lagi masukan dari rekan saya orang India itu, menurutnya sangat sulit untuk mendapatkan peta jalan di Jakarta. Di Hongkong, banyak terdapat Hongkong Tourism Board yang menyediakan Peta secara gratis, menyediakan list of  hotel maps, place of interest dan lain lain. Wah sangat nyaman deh pokoknya.

Mari kita mulai ceritanya :

Hong Kong terdiri dari Pulau Hong Kong, Kowloon, dan New Territories . Hong Kong dilayani oleh Bandara Internasional Hong Kong di Chek Lap Kok namun lebih sering dikatakan terletak di Lantau.

Hong Kong memiliki sistem transportasi dalam kota yang mapan dan modern yang terdiri dari kereta api, bus, tram, feri, dan taksi. Hampir semua layanan transportasi dapat dibayar menggunakan Octopus Card.

Jaringan kereta bawah tanah dikelola oleh MTR Corporation Limited yang mengelola MTR dan Kowloon-Canton Railway Corporation yang mengelola KCR sedangkan layanan tramnya adalah satu-satunya di dunia yang memakai kereta tram dua tingkat. Jaringan bus dikelola oleh 5 operator yang menggunakan bus dua tingkat seperti terdapat di London dan Singapura. Terdapat pula layanan taksi yang 99% armadanya menggunakan LPG.

Layanan feri yang paling dikenal adalah Star Ferry yang menyeberangi Victoria Harbour antara Tsim Sha Tsui, Central, Wan Chai, dan Hung Hom dengan biaya hanya 2 HKD. Sistem tiketing semua serba otomatis. Masukan uang ke vending machine dan koin akan keluar sendirinya dan koin itu dimasukan ke pintu masuk.  Semua dengan mesin sehingga tidak ada tindakan suap atau sogok atau menganggap orang penting yang bisa masuk dengan gratis.

Dari masing masing terminal seperti di Central sudah terdapat Bus Umum double decker yang siap mengantar anda kemanapun tujuan anda di pulau Hongkong. 15 C adalah nomor bus yang megnarah ke Peak Tram Terminal yang terletak di Central juga. Kalau anda ingin langsung ke the Peak maka anda bisa naik  Bus Double Decker No. 15.  Dipulau hongkong sendiri banyak moda transportation seperti Trem, Bus atau MTR. Moda transportasi yang banyak alternativenya ini lah yang membuat masyarakat Hongkong memilih menggunakan kendaraan umum dibandingkan dengan kendaraan pribadi.

Begitu banyaknya bis sehingga kita tidak perlu takut tidak terangkut atau berdesakan untuk berdiri. Tidak ada copet, tidak ada yang berdiri dan tidak ada yang melakukan sexual harrashment di dalam bus.  Hebatnya lagi tidak ada kondektur karena penumpang membayarnya dengan cara elektronik. Setiap bus dilengkapi dengan digital TV sebagai hiburan dan promosi.

kemudian di terminal bus, setiap arah ada petunjuknya termasuk terminal terminal yan dilewati bus tersebut berikut tarifnya.  Terlihat memang fondasi struktur transportasinya begitu bagus dan mungkin lebih bagus di bandingka Singapore yang terkadang kita masih harus berdiri saat didalam bis.

Kalau di Singapore ada bus Hop On maka di Hongkong ada Open Top Bus Tour Double Decker, dimana setiap penumpang dengan membayar HKD 50 bebas mau kearah manapun anda menuju.

Kita lihat semua antri dengan tertib. Bis hanya menunggu maksimal 5 menit sehingga seluruh keberangkatan terjadwal.  Tidak ada penumpang yang berdiri dan tidak ada yang berdesak desakan.  Semua bus dilengkapi dengan CCTV sehingga semua orang tidak berani melakukan kejahatan didalam bus. Kemudian semua Bus dilengkapi pula dengan TV digital. nah nggak bosan kan menempuh perjalanan.

WORKING @ Height

Training Title WORKING AT HEIGHT
Duration                  : 

 

1 day (08-00 – 17.00) Theoretical and practical 

 

Training Overview  :
  • The consequences of falling from any height are very serious and a high standard of protection is required. Secure fencing of edges, permanent and temporary scaffolds, mobile access platforms and fall arrestment equipment are often used to minimized risks of working at height, whilst ladder remain the most convenience (and potentially dangerous) means of access.
  • Failure to understand the limitation of ladder equipment can result in injuries and fatalities. This course helps delegates understand the correct procedures for roof work and working at height, and reinforces working at height procedures
Syllabus                   :
  • Introduction to the risks and controls
  • Defining the problems
  • Fall protection equipments
  • Maintenance PPE
  • Avoiding the risk from working at height
  • Height specific risk assessments
  • Assessing the risk from working at height
  • Selection and maintenance of correct work equipment
  • Site inspection
  • User and person inspection
  • Practical with self assessment
  • Post test
  • Conclusion

 

OPEN WATER DIVING TRAINING CMAS A1

Training Title OPEN WATER DIVING TRAINING CMAS A1
Duration                  : 

 

2 days (08-00 – 17.00) Theoretical and practical 

 

Training Overview  : •          Planning, organisation, procedures, techniques, problems and hazards of underwater search and recovery diving 

•          Limited visibility diving and underwater navigation techniques

•          Proper techniques and safety considerations for object location, including the use of various search patterns, lines and reels

•          Proper technique and safety considerations for recovery of

objects using various lifting

devices

Syllabus                   :
  • Underwater world
  • Scuba equipment, function and how to choose
  • Air breathing usage
  • Buddy system procedure ( Never Dive Alone)
  • Adaptation process
  • How to install, dismantle and scuba maintenance
  • Diving physical and diving physiology
  • Guidelines to use dive table
  • Diving planning
  • How to face the diving problem and hazard
  • Briefing
  • Warming up
  • Pre dive safety check
  • Entry dive
  • BCD inflation dan deflation
  • Surface an shallow water
  • Descent
  • Mask clearing + open mask
  • Regulator clearing
  • 2 types Regulator recovery
  • No mask breathing
  • Buddy breathing single or double
  • Regulator free flow
  • Neutral buoyancy fin pivot
  • Neutral buoyancy HOVERING
  • Open and install weight under water
  • Under Water Swimming with buddy
  • Swimming Ascent control
  • Maintenance gear
  • De briefing

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.