20 Kota dengan Kemacetan Terburuk di Dunia

23 Mei 2009 in Feature

KEMACETAN merupakan kepenatan atau sakit kepala yang nyata dirasakan para pengemudi di kota-kota besar. Ketika sedang terburu-buru bekerja atau liburan, kemacetan selalu membuat syaraf dan psikologis seseorang terganggu.
Berikut daftar kota-kota tersebut:

1) Tokyo; Kota metropolis yang memunyai banyak monorel dan jenis moda transportasi lainnya, namun masih mengalami masalah besar bagi seseorang untuk memiliki mobil pribadi. Oleh karena itu, mengapa di Tokyo ada Tokyo Traffic Control Center yang bekerja 24 jam sehari. Hal ini memungkinkan mereka bisa mengatur lalu lintas ketika terjadi kemacetan. Mereka punya 17 ribu kenderaan deteksi.

la_traffic_043

2) Los Angeles; SUDAH umum kita terima, bahwa Los Angeles (LA) adalah kota metropolis yang paling bermasalah dengan kemacetan, meski memunyai banyak jalan raya.

3) Sao Paulo; Majalah Time melaporkan Sao Paulo memunyai tingkat kemacetan terburuk di dunia. Pada 9 Mei 2008, mencatat sejarah dengan 166 miles (266 km) dari antrian dari 522 mil (835 km). Masalah kemacetan di sana diasumsikan karena akibat akselerasi tingkat motorisasi sejak tahun 2003. Dan sekitar 1000 orang membeli mobil baru setiap hari.

4) Bangkok; Para guide wisatawan di Bangkok memeringatkan para tamunya akan padatnya lalu lintas jalan di negerinya. Bahkan beberapa kereta api dan jalan baru belum bisa menyelamatkan keadaan. Sepeda denga leluasa memotong ditengah kepadatan jalan tanpa memberi tanda, begitu pula pada kendaraan lainnya. Para pengunjung beranggapaan fenomena tersebut sebagai kekacauan nyata dari lalu lintas.

5) Moscow; Kota ini juga memunyai alasan mengapa kemacetan masih ada di sana. Salah satunya dikarenakan musim semi dingin yang parah. Transportasi darat tidak bisa beroperasi karena es hitam. Masalah lainnya adalah jumlah penduduk tinggi, sehingga bisa memiliki banyak kendaraan. Dan jalan di sana terpaksa harus kembali dibangun dan diperluas.

6) Shanghai; Sama dengan kota yang padat penduduk lainnya, juga memiliki masalah lalu lintas. Sejak tahun 1998 hingga 2003 jumlah kendaraan meningkat dari 7 ribu – 170 ribu. Banyak orang mampu di sana memiliki mobil sendiri. Akibatnya, jalanan pun menjadi padat.

7) Mumbai; di kota ini kemacetan ini terjadi karena banyak alasan: cuaca buruk (hujan lebat), jalan yang sempit, tingginya jumlah kendaraan. Banyak wisatawan mengeluhkan soal udara di sana dan hal itu bukan suatu yang mengejutkan di kota Mumbai.

8) Mexico; untuk mengatasi kemacetan di kota asal serial telenovela ini, yaitu dengan menerapkan sistem kalender khusus. Namun, hal tersebut tetap saja tidak mengurangi kondisi yang ada.

9) New York; kota ini boleh dibilang sebagai salah satu kota dari tiga kota besar lain di Amerika Serikat yang parah lalu lintasnya. Kota selalu tampak tak mampu menyediakan tempat.

10) Seоul; kehidupan orang makmur – meski beberapa di Asia terjadi krisis – tetap membeli mobil baru. Itulah mengapa ketika jam macet di sana, tidak cukup ruang untuk kendaraan.

11) Chicago; Kondisi jalan dan rute lama serta pembelian mobil baru oleh penduduk antara lain yang membuat masalah untuk mencapai tempat kerja.

12) Manila; seperti kota-kota yang padat lainnya, Manila juga mengalami hal yang sama soal kemacetan. The “Holland”, begitulah istilah solusi yang diterapkan. Menggunakan transportasi sepeda daripada kendaraan lainnya, tapi belum pulang mengurangi kondisi kemacetan.

13) London; Gambarang jalanan di sana adalah jalanan seperti terlalu lama untuk dilewati karena begitu banyak lewat kendaraan per jamnya.

14) Jakarta; Tidak ada Jakarta tanpa kemacetan sama sekali. Lebih dari 100 mobil baru muncul di jalan Jakarta tiap harinya. Apakah kalian pikir ini tidak berakibat pada kemacetan? Jakarta adalah kota terburuk diseluruh Dunia system transportasinya. Perencanaan manajemen jalan raya tidak pernah diatur dengan baik. Jalan baru diperbaiki segera saja dalam waktu 3 bulan rusak kembali.

Perencanaan tatakota tidak baik, warga yang tidak disiplin menambah kisruh lalulintas di Indonesia utamanya Jakarta. Tidak ada perencanaan tranmsportasi umum terpadu apalagi grand design master plan transportasi…wah kalau ini mah kelaut aje. Bus Way aja berantakan, masa mau mikirin MRT dan Monorail….

macet2
15) Osaka; seperti kota-kota Jepang lainnya, Osaka tidak dapat terlepas dari kemacetan. Mungkin kota ini tidak bisa lepas dari kemacetan. Mungkin Osaka juga akan mengambil sistem yang diterapkan di Tokyo, “Tokyo Traffic Control Center System”.

16) Venezuela; Sejak 19988 Venezuela menetapkan harga tetap gas. Dapat dibayangkan bagaimana jumlah kendaraan muncul di jalanan. Bukan masalah polusinya, tapi kemacetan yang terjadi benar-benar menakutkan.

17) Athens; kota ini terus menghadapi banyak masalah kemacetan dari tahun ke tahun. Karena jalanan masih sama dan pertumbuhan pendudukanya terus meningkat, kendaraan masih terus mengguncang saraf-saraf penduduk.

18) Auckland; Meski tidak sebesar Tokyo, Auckland memiliki rasio kepemilikan mobil di setelahA merika Serikat. Itulah mengapa, kemacetan masih terus ada dan menjadi masalah besar di kota-kota.

19) Rio de Janeiro; di pusat kotanya, tak ada yang bisa mengatur kemacetan yang begitu padat. Alasannya hampir sama dengan kota-kota lainnya di dunia: kondisi cuaca (hujan dan banjir), tingkat kepemilikan kendaraan pribadi tinggi, dan jalan-jalan perlu dilakukan pelebaran.

20) Kathmandu; kota ini sering disebut sebagai kota polusi dan macet. Ini benar-benar kota yang terlalu padat dengan jalan yang terlalu sempit. Tapi bukan karena itu masalah tapi juga masalah lalu lintas dan polisinya. Polisi lalu lintas harus menunggu bila ada pesanan. Dan mungkin karena soal birokrasi maka tak satupun orang tahu kapan kemacetan dimulai dan akan berahir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s