Bagaimana transportasi Jakarta Menjadi Lebih Manusiawi?

Kemacetan merupakan fenomena sehari-hari warga Jakarta. Survei tahun 2007 memperlihatkan bahwa di beberapa ruas jalan utama, 40 persen dari waktu berkendaraan merupakan waktu bergerak. Sisanya, 60 persen, merupakan waktu hambatan.

Ini berarti bila kita berkendaraan akan lebih banyak stopnya daripada bergeraknya. Kemacetan yang bertambah parah dan makin lamanya waktu perjalanan merupakah satu dari sekian faktor yang menyebabkan turunnya empati sosial pengendara kendaraan di Jakarta.

Akibatnya, jalan menjadi arena persaingan dan survival yang pada akhirnya memunculkan wajah transportasi yang jauh dari kesan manusiawi.

Penyebab kemacetan sering kali dibebankan pada kurangnya panjang jalan. Jalan hanya bertambah sebesar 0,01 persen per tahun, sedangkan kendaraan bermotor bertambah sekitar 9.5 persen per tahun. Lalu apakah kita harus membangun tiga lapis jalan layang untuk mengurai kemacetan?

Berbagai kajian akademis memperlihatkan bahwa peningkatan kapasitas jalan tanpa dibarengi dengan disinsentif terhadap pengguna kendaraan pribadi justru sangat berpotensi meningkatkan laju pertumbuhan lalu lintas. Fenomena ini biasa dikenal dengan induced demand atau gampangnya lalu lintas yang dibangkitkan.

Secara sederhana hal ini mudah dibuktikan melalui pembangunan jalan baru, underpass atau flyover di tengah kota. Pada awalnya kemacetan akan berkurang, namun pada beberapa bulan kemudian akan “tercipta” keseimbangan baru dengan volume lalu lintas yang lebih besar.

Studi lalu lintas

Beberapa studi di negara maju menunjukkan bahwa elastisitas permintaan perjalanan (traffic demand) terhadap penambahan kapasitas jalan adalah 0-1. Artinya, jika kapasitas jalan meningkat sebesar 1 persen, permintaan perjalanan juga akan meningkat 1 persen, bahkan dalam jangka panjang bisa melebihi 1 persen.

Pemodelan regresi antara volume lalu lintas dan luas jalan di Jakarta memperlihatkan fenomena induced demand.

Riset yang dilakukan oleh kolaborasi sejumlah perguruan tinggi di Asia yang tergabung dalam the East Asia Society of Transport Studies (EASTS) menunjukkan, kepemilikan kendaraan berkorelasi erat dengan tingkat pendapatan per kapita. Makin tinggi pendapatan, makin tinggi tingkat kepemilikan kendaraan.

Kota-kota di Asia, seperti Jakarta, Manila, Bangkok, dan Beijing, memang masih memiliki tingkat kepemilikan kendaraan rendah, tetapi sangat berpotensi mengalami lonjakan jumlah kendaraan yang sangat signifikan (lihat gambar 1). Di lain pihak, penggunaan kendaraan dipicu oleh kecepatan rata-rata mobil di jalan.

Pembangunan jalan di tengah kota akan meningkatkan kecepatan kendaraan. Hal ini pada akhirnya merangsang orang untuk lebih menggunakan kendaraan. Faktor lain yang mempunyai dampak mengurangi penggunaan kendaraan adalah kepadatan perkotaan.

Makin padat perkotaan, makin jarang orang memakai kendaraan pribadi (lihat gambar 2). Oleh sebab itu, membuat wilayah tengah kota yang lebih padat (compact) dengan tata guna lahan yang beragam (mixed use) akan berpotensi menurunkan penggunaan kendaraan.

Catatan perjalanan pembangunan kota mega Seoul, dengan penduduk dan luas area yang hampir sama dengan Jakarta, memberikan pelajaran yang berharga bagi para ahli transportasi di dunia. Hingga tahun 2003, untuk mengatasi permasalahan jumlah perjalanan sebesar 30 juta per hari, Pemerintah Kota Seoul terus membangun jalan, overpass, underpass, dan jalan layang bebas hambatan di dalam kota hingga mencapai 8.000 km.

Meskipun beberapa koridor telah memiliki jalan 2 x 6 lajur, upaya ini tidak membuahkan hasil karena kemacetan yang bertambah parah. Polusi udara kota pun meningkat dan indikator kesehatan masyarakat cenderung menurun.

Reformasi berpikir

Wali Kota Lee Myung Bak mereformasi cara berpikir transportasi dengan mengurangi jumlah jalan yang ada di tengah kota. Alih-alih membangun jalan, yang dilakukan adalah meruntuhkan 5,8 km jalan layang bebas hambatan di tengah kota dan mengubahnya menjadi sungai (Cheong Gye Chong Restoration Project).

Tidak berhenti di sini, Lee Myung Bak juga menutup salah satu simpang jalan terbesar dan mengubahnya menjadi ruang terbuka hijau, meruntuhkan beberapa fly over, dan mengurangi jumlah tempat parkir.

Pada saat yang bersamaan, angkutan umum perkotaan berupa subway dan bus ditingkatkan kualitasnya.

Seoul memiliki jaringan subway 536 km yang mampu mengangkut penumpang sebanyak 4,5 juta orang per hari, 2,8 juta mobil pribadi, dan 10.000 bus. Bandingkan dengan Jakarta yang memiliki sekitar 2 juta mobil, 6,6 juta motor, dan 333.000 bus.

Tindakan yang counter-intuitive ini memaksa para pengendara kendaraan pribadi untuk pindah ke angkutan umum di tengah kota. Sebagai akibat dari langkah-langkahnya ini pengendara bus naik 10 persen, subway naik hingga 9 persen, indikator lingkungan, seperti kualitas udara, kebisingan, heat island (suhu daratan), dan kualitas air, juga membaik.

Di samping itu, konsumsi BBM juga menurun dan memberikan penghematan pada tahun 2005 sebesar 5 persen. Masyarakat merasakan perubahan tingkat kerekatan sosial yang semakin baik dan kota Seoul menjadi lebih manusiawi.

Atas langkah-langkahnya ini Lee Myung Bak dianggap sebagai salah satu ikon transportasi dan disetarakan dengan para reformis transportasi dunia lainnya, seperti Enrique Penalosa (Wali Kota Bogota), Jamie Lerner (Wali Kota Curitiba), dan Ken Livingston (Wali Kota London). Tidak hanya itu, Lee Myung Bak akhirnya terpilih menjadi Presiden Korea Selatan saat ini karena dianggap mempunyai visi ke depan dalam pembangunan daerah.

Paradigma pembangunan transportasi perkotaan menyatakan bahwa membangun transportasi perkotaan tidak hanya berlandaskan kepada aspek mobilitas kendaraan semata, tetapi lebih jauh lagi merupakan bagian integral dari visi yang komprehensif untuk menata kota ke depan. Transportasi dan tata ruang kota merupakan dua sisi mata uang.

Bambang Susantono Ketua Umum MTI, Vice President EASTS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s