KA Bandara Soeta Hanya Bisa Menjadi Mimpi?

Disadur dari harian umum pelita http://www.pelita.or.id/baca.php?id=67754

KA Bandara Soeta Hanya Bisa Menjadi Mimpi?

PELAKSANAAN pembangunan mega proyek kereta api (KA) Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soeta), Cengkareng senilai Rp2,2 triliun hanya bisa menjadi mimpi. Pasalnya, proyek bergengsi itu setelah diambil-alih pemerintah dalam hal ini Departemen Pehubungan (Dephub) melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian satu tahun lalu, nasibnya semakin tidak pasti.
Optimisme Dephub dimasa Menhub Hatta Rajasa maupun PT RaiLink yang dinyatakan sebelumnya bahwa proyek angkutan massal itu akan selesai dan sudah bisa dioperasikan September 2009, tidak akan menjadi kenyataan.
Rencana pembangunan KA Bandara Soeta telah dilansir sejak tiga tahun lalu. Namun apa hendak dikata, semua rencana itu buyar. Bahkan semua instansi yang terkait dengan mega proyek itu seolah-olah bingung, karena harus menyesuaikan dengan Keppres No 80/2005 tentang Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintahan, kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal, pekan lalu di Jakarta. Nasib kelanjutan KA Bandara Soekarno-Hatta hingga saat ini belum jelas. Belum jelas. Mereka sendiri masih bingung, katanya.
Proyek itu sendiri awalnya diperkirakan hanya bernilai Rp900 miliar dan akhirnya berkembang menjadi Rp2,2 triliun. Anehnya perkembangan nilai proyek tersebut sampai sekarang masih dipertanyakan banyak pihak.
Molornya pelaksanaan proyek yang semula diperkirakan pekerjaan konstruksinya paling cepat akhir 2008, tetapi kenyataannya sampai sekarang; belum ada tanda-tanda kemajuan yang berarti. Proyek itu sendiri, diharapkan menjadi percontohan sistem angkutan terpadu, antara moda KA, darat serta udara karena arus penumpang udara ke Bandara Soekarno-Hatta trendnya terus meningkat sehingga diperlukan akses alternatif.
Proyek ini digagas pada saat Menhub dijabat oleh Hatta Rajasa, dan Dirjen Perkeretaapian dijabat oleh Soemino Eko Saputra tiga tahun lalu. Kini jabatan Menhub dalam dua tahun terakhir digantikan oleh Jusman Syafii Djamal dan jabatan Dirjen Perkeretaapin sudah dua kali diganti, namun greget dari proyek itu semakin mengendor.
Bahkan, ketika Dirjen Perkeretaapian Dephub dijabat Wendy Aritenang Yazid (kini Staf Ahli Menhub), saat itu pemerintah memberikan kemudahan fasilitas agar proyek KA Bandara Soeta segera dibangun.
Fasilitas itu, antara lain berupa percepatan pemberian izin trase sampai konsesi penyelenggaraan KA Bandara. Termasuk juga penggunaan Dukuh Atas sebagai city air terminal,.
KA Bandara jalur Manggarai-Soekarano-Hatta akan menempuh jarak 32,73 Km (melintasi Dukuh Atas-Tanah Abang-Angke-Pluit-Pantai Indah Kapuk-Terminal 1 dan 3 Soekarno-Hatta); dan dibangun di atas tanah mengikuti jalur jalan tol Bandara.
Pemerintah pun pernah membentuk konsorsium KA Bandara yang dimotori oleh PT RaiLink, perusahaan patungan PT KA dan PT Angkasa Pura II (keduanya perusahaan BUMN). Dirut PT RaiLink, Masjraul Hidayat, sebelumnya pernah menyebutkan bahwa peminat dari proyek itu cukup banyak. Peminatnya banyak. Sedikitnya 10 investor dari dalam dan luar negeri sudah tertarik dan hal ini sudah disampaikan pada ajang Indonesia Infrastructure 2006, katanya.
Sebenarnya walaupun rencana pemerintah untuk mengambil-alih proyek KA Bandara kian bulat, optimistisme tetap ditunjukkan Direktur Utama PT RaiLink Masjraul Hidayat. Bahkan, dia menegaskan, proyek pembangunan bisa diselesaikannya paling lambat pertengahan 2009. Insya-Allah, pertengahan 2009 KA Bandara bisa operasional. Saya optimistis PT RaiLink bisa menyelesaikan proyek ini secepatnya, ujarnya.
Namun, sayang, Masjraul enggan berkomentar lebih jauh perihal rencana pengambilalihan proyek KA Bandara oleh pemerintah. Saat ini, pihaknya masih terkonsentrasi pada pembahasan tentang pembebasan lahan sepanjang 9,3 Km di wilayah Kalideres, Jakarta Barat, yang dilakukan bersama Pemprov DKI Jakarta. Dia menargetkan, pembebasan lahan itu sendiri bisa selesai akhir 2007.
Selain membahas pembebasan lahan, pihaknya kini juga masih melakukan penggarapan desain struktur pembangunan KA Bandara. Kami juga menargetkan, desain akan rampung pada akhir 2007. Sehingga proses pembangunan konstruksi bisa dilakukan pada awal 2008, katanya.
Desain ini bukan baru kami buat, tetapi kami sempurnakan lagi, kami perbarui. Karena nantinya, KA tidak hanya sampai batas luar Bandara Soeta. Tetapi, bisa beroperasi sampai ke terminal-terminal penumpang, lanjutnya.
Terkait rencana pengambilalihan proyek KA Bandara, Dephub telah menyiapkan anggaran khusus dalam APBN 2008. Dirjen Perkeretaapian Soemino Ekosaputro saat itu mengatakan, langkah itu akan disinergikan dengan rencana kerja membangun 80 Km jalur rel KA baru, senilai Rp1 triliun. Salah satunya, kami akan bangun double track Duri-Tangerang yang akan kami teruskan dari Kalideres menuju Soekarno-Hatta, ujarnya.
Pembangunan jalur ganda Duri-Tangerang sepanjang 23 Km guna merealisasikan sistem jalur ganda di seluruh lintasan KA Jabotabek. Sejak awal, rencana pembangunan ini berhubungan dengan jalur KA Bandara dari Manggarai menuju Bandara Soeta sepanjang 30,3 Km, ujarnya.
Saat ini, PT RaiLink juga tengah menggarap proyek pembangunan KA menuju Bandara Kualanamu, Medan, Sumatera Utara; senilai Rp15 miliar. Dipastikan, jalur baru KA yang menghubungkan Arah Kabu dan lokasi Bandara Kualanamu itu akan lebih dahulu selesai ketimbang proyek KA Manggarai-Soekarno-Hatta.
Alasannya, selain panjang jalur yang akan dibangun jauh lebih pendek (1 Km), keberadaan jalur KA baru itu juga akan sangat membantu proses pembangunan Bandara Kualanamu. Kemungkinan memang akan lebih dulu. Karena KA bisa digunakan untuk mengangkut bahan-bahan proyek, serta alat-alat berat untuk pembangunan. Lagi pula, rutenya lebih pendek, kata Masjraul.(yahya)

Ini adalah berita yang saya sunting dari harian Pelita, kembali birokrasi menjadi urusan transportasi massal menjadi terbentur. Tumpang tindih antara kepentingan pusat dan daerah saling lempar tanggung jawab mengakibatkan kemunduran pembangunan sarana transportasi masal diseluruh lini (bandara, pelabuhan, maupun bandara). Dahulu sudah dipikirkan oleh menhub jaman Orde Baru moda transportasi terintegrasi dan menjadikan manggarai sebagai sentral transportasi masal dimana disitu bertemu seluruh simpul transportasi baik kereta api, maupun bus. Kembali, ganti pemerintah ganti pula kebijakan. Semoga kita bisa belajar dari negeri yang dekat seperti Singapore, Malaysia atau Hongkong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s