FOKE GAGAL MENGATASI KEMACETAN DI JAKARTA

NILAH.COM, Jakarta – Tahun 2010, merupakan puncak tahun kemacetan di wilayah DKI Jakarta. Busway, alat transportasi massa yang digadang-gadang menjadi alternatif kemacetan Ibukota, tak mampu menjadi solusi kemacetan.

Semua yang dilakukan Pemprov untuk mengatasi kemacetan baru sebatas permukaan dan belum tercapai secara optimal. “Belum. Tergantung sekarang,targetnya apa, kalau bicara kemacetan pasti tidak tercapai. Peningkatan angkutan umum baru parsial, ada busway tapi belum optimal, bukan fisik koridor tapi system, ada feedernya tapi belum jalan. Banyaklah PR-PR yang masih tersisa yang harus diselesaikan,” ungkap pengamat transportasi dari Universitas Indonesia, Alfin Syah kepada INILAH.COM, Rabu (22/12/2010).

Sangking parahnya kemacetan di Ibukota, beberapa waktu lalu muncul isu pemindahan Ibukota. Ide ini dimunculkan langsung oleh Presiden SBY. Sebab, Jakarta dianggap sudah tidak mampu lagi mengatasi kemacetan.

Segala kompleksitas kekecewaan ada di Jakarta, dan Pemerintah hingga kini, sejak Gubernur dilantik pada 2007, belum bisa mengatasi itu. Walau, dalam janji-janji kampanye mengatakan ‘Serahkan Jakarta Pada Ahlinya’.

Kejadian yang paling parah sepanjang tahun 2010 adalah saat banjir yang membuat kemacetan parah pada 25 Oktober 2010. Jakarta menjadi sorotan banyak pihak, hampir tidak ada celah untuk lewat, dan hampir tidak ada celah yang tidak tergenang.

Beberapa masyarakat bahkan berencana mengajukan gugatan publik terhadap Gubernur. Di beberapa jejaring sosial mempertanyakan kinerja Gubernur yang mereka nilai sangat rendah. Keesokan harinya, Gubernur menjawab keresahan warganya.

Namun, justru Gubernur ‘menyalahkan cuaca’. “Ini perubahan cuaca, dulu kita punya musim hujan dan kering tapi sepanjang tahun 2010 ini hujan terus,” ungkap Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, saat meninjau proyek gorong-gorong di jalan M.H.Thamrin Jakarta (26/10/2010).

Hingga kini, titik genangan masih menjadi problem apalagi ketika hujan turun. Intinya, kalau hujan turun, pasti banjir dan kalau banjir pasti macet. Walau tidak banjir, macet pun tetap terjadi apalagi kalau banjir.

November 2010, masalah ini menjadi keresahan pusat juga. Pada hari Selasa (09 November 2010), Gubernur Fauzi Bowo dan beberapa pejabat Pemprov DKI, bertemu dengan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), diantaranya adalah Emil Salim dan Ginanjar Kartasasmita.

Ginanjar mengatakan bahwa masalah kemacetan, banjir hingga sampah, sudah sangat kompleks sehingga harus sinergi antara Jakarta dengan beberapa daerah penyangga.

“Harus ada payung hukum yang menaungi wilayah lain seperti Bogor,Jakarta dan Tangerang” kata Ginanjar di gedung Wantimpres ketika itu.

Beberapa upaya yang dilakukan seperti penambahan ruas jalan hingga pelebaran, justru tidak bisa efektif. Sebab, ditengarai Pemprov tidak melihat akar permasalahannya, tapi justru terjebak pada proyek-proyek.

“Mau diperlebar berapapun, tidak akan mempengaruhi jika jumlah kendaraan tidak dibatasi,” kata pengamat transportasi dari Universitas Trisakti, Yayat Supriatna kepada INILAH.COM, beberapa waktu yang lalu.

Sebab, katanya walau pemerintah sudah menjanjikan dengan pembangunan fly over dan sejenisnya, tapi ternyata justru tidak bisa menyelesaikan masalah kemacetan. “Dulunya katanya kalau dibangun fly over di Pancoran tidak akan macet. Tapi ternyata sekarang tetap macet juga,” ujarnya. [mah]

One thought on “FOKE GAGAL MENGATASI KEMACETAN DI JAKARTA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s