Pertamax Naik Lagi

RMOL.Pemerintah kembali menaikkan harga BBM non subsidi. Langkah tersebut dinilai akan berdampak pada meningkatnya konsumsi BBM bersubsidi. Alhasil, pelanggan pertamax bakal berburu premium.

Pertamina pada Sabtu (15/1) menaikkan harga pertamax dan pertamax plus. Harga pertamax yang tadinya Rp 7.500 naik menjadi Rp 7.850. Sementara, pertamax plus dari harga Rp 7.900 menjadi Rp 8.100.

Sebelumnya, pada 1 Januari 2011 Pertamina menaikkan harga pertamax dari Rp 7.050 menjadi Rp 7.500 per liter. Sementara harga pertamax plus dari Rp 7.450 menjadi Rp 7.900 per liter

Vice President Coorporate Communication PT Pertamina (Persero) M Harun mengatakan, pihaknya tidak khawatir kenaikan harga pertamax akan berdampak beralihnya konsumen BBM non subsidi itu ke premium.

Menurut dia, kesadaran mas­yarakat terhadap penggunaan per­tamax sudah jauh lebih baik. Se­lain itu, masyarakat Indonesia sudah mulai sadar kebutuhan me­sin kendaraan dengan bahan ba­karnya. Apalagi, konsumen bia­sanya membeli pertamax ber­da­sarkan rupiah, bukan per liter.

“Mereka akan mengeluarkan uang yang sama, tapi volumenya saja yang berkurang,” katanya.

Biasanya, kata Harun, dampak kenaikan pertamax itu hanya akan berlangsung satu sampai dua hari saja.

“Memang hari pertama dan kedua terjadi pe­nurunan konsum­si pertamax. Tapi penurunannya hanya sekitar 5 persen, setelah itu stabil lagi,” jelas Harun.

Harun menegaskan, sampai sekarang tidak ada penambahan konsumsi premium terkait harga pertamax yang terus naik seiring dengan naiknya harga minyak dunia. Sebab, harga itu sudah dilepas ke pasar.

Meski begitu, Harun melihat kenaikan harga minyak dunia tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, kenaikan harga minyak sekarang disebabkan perubahan iklim dan efek ber­kurangnya stok minyak Amerika.

Oleh karena itu, kenaikan har­ga pertamax ini tidak akan meng­gangu rencana pemerintah untuk melakukan pembatasan penggu­naan BBM bersubsidi.

Anggota Komisi VII DPR Ali Kastela menilai, terus naiknya harga pertamax berdampak pada peningkatan konsumsi BBM ber­subidi. Sebab, masyarakat yang tadinya menggunakan per­ta­max akan beralih menggu­nakan pre­mium yang harganya masih disubsidi.

“Tentu peningkatan konsumsi premium ini akan berdampak pa­da kuota BBM bersubsidi yang sudah ditentukan dalam APBN. Jadi pengguna pertamax akan berburu premium, “ kata Ali.

Apalagi kenaikan harga mi­nyak dunia diprediksi masih akan berlangsung beberapa bulan ke depan, sesuai dengan perubahan iklim. “Jika harga pertamax terus naik, tentu akan membebani masyarakat,” ucapnya.

Anggota Fraksi Partai Hanura ini menilai, kondisi itu akan mengganggu kebijakan pe­me­rintah untuk melakukan pem­batasan penggunaan BBM ber­subsidi.

Dia berharap, pemerintah ke depannya harus bisa mengem­bangkan energi alternatif, seperti gas untuk transportasi umum. Jadi, ketika harga minyak naik, pemerintah tidak kebingungan.

Sebelumnya, Menteri Ke­u­angan (Menkeu) Agus Mar­to­wardojo mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi asumsi harga minyak pada Maret mendatang.

“Kalau asumsi kita lihat setiap tiga bulan, di akhir Maret kita lihat, di akhir Juni kita lihat,” ujar Agus.

Dengan demikian, lanjut Agus, berapa pun prediksi berbagai pi­hak me­ngenai harga minyak, pemerintah tidak akan mengubah asumsi makro dalam APBN 2011 pada waktu dekat. Dalam APBN, har­ga minyak sepanjang tahun se­besar 80 dolar AS per barel.

“Saya tersenyum mendengar World Bank mengatakan 85 do­lar AS (harga minyak dunia-red), karena saya berkeyakinan harga minyak akan naik tapi tidak akan terlalu tinggi sekali. Saya sambut baik prediksi World Bank,” kata Agus. [RM]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s